Press "Enter" to skip to content

Sekaa Palegongan Klasik Banjar Badung Ramaikan PKB ke-40

Pekan Kesenian Bali (PKB) ke-40 2018 diramaikan oleh Sekaa Palegongan Banjar Badung. Parade tabuh dan tari palegongan klasik tersebut menjadi daya tarik sendiri di acara PKB ke-40 di kalangan Ayodya Taman Budaya-Art Center, Denpasar. Sekaa Palegongan Banjar Badung, Desa Lukluk, Mengwi, Badung uniknya mereka tampil diiringi perangkat gambelan yang sudah ada sejak 1912.

I Wayan Muliyadi selaku penata tabuh menuturkan bahwa seperangkat gambelan klasik itu warnanya terlihat pudar namun auranya terlihat berbeda. Selain itu kambelan tersebut disimpan di pura banjar setempat. Gambelan yang dibawa adalah gambelan dari tahun 1912 uniknya bambelan tersebut tidak ada duplikatnya dan sampai sekarang suaranya masih tetap sama.

Colin McPhee, seorang peneliti gambelan Bali dari Kanada sejarahnya bahwa Gambelan Pelegongan Banjar Badung, Lukluk dibuat tahun 1912 oleh Pande Asem dari Tihingan. Dahulu gambelan ini dimiliki oleh AA Paja dari Puri Kapal yang kemudian dijual ke Banjar Badung. Pada tahun 1930an McPhee sempat mendokumentasikan dalam bentuk gambar dan video tanpa suara serta rekaman audio gending gaya pelegongan Lukluk ini.

Maestro Lotring dari Banjar Tegal, Kuta pada tahun 1920 sempat melatih tabuh pelegongan klasik serta kreasi ciptaannya. Sampai saat ini masih dilestarikan di Banjar Badung. Bilah gambelannya pun yang sudah seabad lebih serta pelawah aslinya masih terawat dengan baik oleh masyarakat Banjar Badung. Kesan klasik dari perangkat gambelan memberikan aura taksu yang kuat karena dibiarkan alami oleh masyarakat setempat.

Pada penampilan di PKB ke-40 mereka membawakan sejumlah tabuh dan tari legong, karya seni karawitan berjudul “Solo” yang diciptakan maestro Wayan Lotring. Sedangkan penampilan Legong Lasem mengisahkan tentang perjalanan Prabu (Adipati) lasem yang meminang putri dari kerajaan Daha (Kediri) yaitu putri Langkesari yang sudah terikat jalinan dengan Raden Panji dari Kahuripan, hingga akhirnya terjadi peperangan.

Selain dua seni klasik tersebut, ada pula dua karya kreasi. Pada bagian tabuh, dipersembahkan tabuh Genta Mas yang terinspirasi dari lantunan genta pemujaan yang seakan tak pernah putus dalam puja pemuliaan yang maha indah. Iringan genta ritus pemujaan dituangkan dalam bentuk gamelan samara pegulingan.

Sementara Legong Swabawaning Saraswati menggambarkan swabawaning (keagungan) Dewi Saraswati sebagai lambang ilmu pengetahuan dan seni yang diiringi oleh sekelompok angsa dan burung merak. Di dalam tarian legong ini dibawakan oleh sekelompok tujuh orang penari dengan gerakan tari Bali klasik dipadukan dengan gerakan tari kreasi baru.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *